Sabin Vaccine Institute Mendanai Peneliti untuk Menyelidiki Misinformasi Seputar COVID-19, Mendesain Solusi untuk Meningkatkan Penerimaan Vaksin

Washington, District of Columbia, UNITED STATES


WASHINGTON, Jan. 13, 2021 (GLOBE NEWSWIRE) -- Sabin Vaccine Institute (Sabin) hari ini mengumumkan bahwa lembaga ini telah memberikan hibah kepada tim peneliti di empat negara untuk mendalami penyebab maraknya misinformasi seputar COVID-19 di masyarakat serta dampaknya terhadap penerimaan imunisasi rutin dan penerimaan vaksin COVID-19.

Hibah ini merupakan bagian dari Program Hibah Kecil untuk Intervensi Sosial dan Perilaku terkait Penerimaan Vaksin dari Sabin. Program ini menyediakan pendanaan kepada para peneliti di beberapa negara berpendapatan rendah dan menengah untuk lebih memahami apa yang mendorong penerimaan vaksinasi di masyarakat dan mendesain intervensi skala kecil untuk menilai dampaknya terhadap penerimaan vaksin.

Lima tim peneliti di India, Kenya, Pakistan, dan Uganda akan menerima dana hingga $30.000 untuk menjalankan riset ini dan memulai intervensi skala kecil di komunitasnya masing-masing selama 10 bulan.

Melalui dukungan ini, Sabin mendorong hubungan kerja sama di lapangan antara peneliti akademik, petugas kesehatan, dan masyarakat setempat.Penerima hibah akan mendapat kesempatan untuk membangun hubungan dan menjalin komunikasi yang bermakna mengenai riset mereka dan potensi penerapan ilmu sosial pada imunisasi dengan Vaccination Acceptance Research Network lintas disiplin yang dipimpin oleh Sabin. Vaccination Acceptance Research Network adalah suatu kelompok internasional beranggotakan banyak ilmuwan sosial dan pakar kesehatan masyarakat yang menangani penerimaan dan permintaan vaksin.Sabin juga akan mendukung setiap tim riset dalam penyusunan dan distribusi publikasi jurnal akses terbuka. Jurnal ini dapat diakses oleh masyarakat tempat penelitian dilakukan.Karena pandemi COVID-19 yang masih terjadi, semua komponen proyek akan dilakukan secara virtual demi memastikan keselamatan tim riset dan masyarakat yang menjadi rekan kerja mereka.

“Lebih memahami penerimaan vaksin di negara dengan pendapatan rendah dan menengah menjadi makin penting,” ujar Kaitlin Christenson, wakil presiden Penerimaan & Permintaan Vaksin di Sabin.”Vaksin COVID-19 yang akan mulai didistribusikan makin membuat kita perlu lebih banyak belajar tentang meningkatkan penerimaan dan permintaan untuk vaksin serta bekerja sama dengan program imunisasi masyarakat dalam berbagai strategi intervensi. Hal ini dibarengi dengan terus meningkatkan serapan imunisasi secara keseluruhan.”

Penerima hibah Sabin untuk tahun 2020 meliputi:

Di India, Dr. Rajeev Seth, MBBS, MD, DNB, dokter anak konsulen senior yang memimpin Bal Umang Drishya Sanstha, suatu organisasi nirlaba di New Delhi yang berfokus pada kesehatan anak dan kesejahteraan untuk anak-anak terpinggirkan, akan memimpin tim yang terdiri dari beberapa peneliti untuk mempelajari persepsi tenaga kesehatan di masyarakat dan misinformasi seputar vaksin.Peneliti pendamping dari Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health, diwakili oleh Baldeep Dhaliwal, MPH, dan Dr. Anita Shet, MD, dari Department of International Health dalam International Vaccine Access Center, akan bekerja sama dengan Dr. Seth dan tim peneliti dalam proyek ini.Studi virtual akan menggunakan intervensi tenaga kesehatan masyarakat multi-cabang di distrik Mewat, Haryana, India, untuk mengatasi hambatan dalam penerimaan vaksin.

Di Kenya, Dr. Benson Wamalwa, MSc, PhD, ilmuwan riset dan dosen dari University of Nairobi, akan memimpin sebuah tim untuk mempelajari misinformasi seputar COVID-19 secara virtual di jejaring sosial tepercaya. Sasaran mereka adalah untuk lebih memahami persepsi mengenai COVID-19 dan kesediaan masyarakat menerima vaksin COVID-19 di Tans Nzoia, Kenya.Tim riset ini kemudian akan menerapkan dan mengevaluasi intervensi yang berupaya meluruskan misinformasi seputar COVID-19 melalui konsultasi via telepon.Perawat Terdaftar di Kenya, Chrysanthus Wamela, chief registrar di unit maternal neonatal dan kesehatan anak AMUA, akan bergabung dengan tim sebagai peneliti pendamping yang memandu proyek ini.

Di Pakistan, Abdul Momin Kazi, MPH, MBBS, profesor asisten riset dalam pediatri dan kesehatan anak di Aga Khan University di Karachi, akan memimpin sebuah proyek riset virtual untuk mempelajari persepsi dan hambatan vaksinasi anak-anak di kalangan tenaga kesehatan dan perawat di kawasan peri-urban di Karachi.Tim riset ini juga akan mendalami peran intervensi berbasis kesehatan bergerak dan media sosial dalam meningkatkan imunisasi anak-anak selama pandemi COVID-19.Dr. Fauzia Aman Malik, PhD, MSc, penasihat khusus dekan inisiatif riset kesehatan global di Yale University, akan menjadi peneliti pendamping dalam proyek tersebut.

Masih di Pakistan, Rubina Qasim, MSc, peneliti utama dan dosen di Dow University of Health Science di Karachi, akan memimpin sebuah tim yang mendalami misinformasi seputar COVID-19 dan vaksinasi di kalangan warga pemukiman kumuh di kawasan perkotaan di Landhi Town, Karachi.Setelah melakukan riset, tim ini akan menggunakan pendekatan desain bersama. Mereka bekerja sama dengan anggota masyarakat untuk mendesain dan menerapkan intervensi yang tepat untuk mengatasi misinformasi seputar COVID-19 dan dampaknya terhadap penerimaan vaksin COVID-19.Dr. Mohammad Tahir Yousafzai, PhD, epidemiolog konsulen dan instruktur senior di Aga Khan University, akan bergabung dengan proyek sebagai peneliti pendamping.

Di Uganda, Dr. Freddy Kitutu, PhD, dosen sistem kesehatan, apoteker, peneliti, dan dekan School of Health Sciences di Makerere University, akan memimpin sebuah tim untuk mempelajari prevalensi dan efek misinformasi di Distrik Buikwe.Setelah melakukan riset, tim ini akan melatih dan memberdayakan kelompok influencer untuk mengatasi misinformasi seputar COVID-19 dan keengganan menerima vaksin.Studi virtual akan mendalami intervensi mobilisasi sosial berbasis dialog melalui kelompok masyarakat dan influencer.Jacquellyn Nambi Ssanya, MPH, dari Makerere University School of Public Health akan bergabung dengan proyek sebagai peneliti pendamping.

Tentang Sabin Vaccine Institute

Sabin Vaccine Institute sangat vokal dalam mendukung perluasan akses dan serapan vaksin di seluruh dunia, memajukan riset dan pengembangan vaksin, serta memperkuat pengetahuan dan inovasi seputar vaksin.Membuka potensi vaksin melalui kemitraan, Sabin telah membangun ekosistem yang kuat bagi penyandang dana, inovator, penanggung jawab pelaksana, praktisi, pengambil kebijakan, dan pemangku kepentingan untuk memajukan visinya dalam menciptakan masa depan yang bebas dari berbagai penyakit yang dapat dicegah.Sebagai organisasi nirlaba dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Sabin berkomitmen untuk mencari solusi yang dapat digunakan dalam jangka panjang. Sabin juga ingin mendistribusikan vaksin yang ampuh kepada semua orang, tanpa memandang identitas dan tempat tinggal mereka.Di Sabin, kami percaya bahwa vaksin bisa mengubah dunia.Untuk informasi selengkapnya, kunjungi www.sabin.org dan ikuti kami di Twitter, @SabinVaccine.

Kontak Media:
Mary Beth Wooden
Sabin Vaccine Institute
+1 (202) 842-5025
press@sabin.org