Penelitian Black Hat Asia Baru: Lebih dari 70% Ahli Keamanan Memprediksi Pelanggaran Data Besar di Seluruh Negara Asia dalam Dua Tahun Mendatang

Hampir 60% ahli keamanan siber berbasis di Asia prihatin akan serangan jahat yang berasal dari Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara; beberapa juga meragukan keefektifan Kerangka Kerja Privasi APEC

New York, New York, UNITED STATES


SINGAPURA, March 13, 2018 (GLOBE NEWSWIRE) -- Sebagian besar ahli keamanan informasi di Asia memperkirakan akan menemukan gangguan  besar dan melampaui batas dalam jaringan perusahaan dan infrastruktur penting dalam satu atau dua tahun mendatang, dan hampir semua tidak yakin dengan kemampuan mereka untuk bertahan melawan ancaman tersebut.

Kekhawatiran ini dan hal lainnya diuraikan dalam laporan penelitian pertama Black Hat Asia, Cybersecurity Risk in Asia. Laporan ini, disusun berdasarkan survei pada hampir 100 peserta aktif dan tidak aktif di Black Hat Asia, memberikan wawasan mengenai masalah keamanan informasi penting pada pertahanan dan kerentanan siber Asia. Hasilnya hampir mencerminkan  respons peserta Black Hat di Amerika Serikat dan Eropa – mengangkat keprihatinan lebih lanjut mengenai keamanan siber pada tingkat global.

Black Hat merupakan konferensi peneliti keamanan siber dan ahli keamanan informasi perusahaan yang terkenal dan berkedudukan kuat. Masuk ke dalam komunitas ahlinya, Black Hat mendapatkan wawasan dari para ahli di Asia mulai dari CEO, CSO, CIO, dan anggota C-suite, direktur teknologi informasi dan keamanan informasi, admin jaringan, serta staf keamanan lainnya.

Serangan Berisiko Infrastruktur Penting di Tahun 2020
Hampir 70% dari survei tersebut memperkirakan serangan yang merusak infrastruktur penting di beberapa negara Asia akan terjadi dua tahun mendatang. Karena survei di Black Hat dibuat di Amerika Serikat dan Eropa, ahli keamanan di penelitian Black Hat Asia prihatin jika insiden yang baru terjadi di wilayah mereka mungkin menunjukkan bahwa pelanggaran besar infrastruktur penting akan terjadi. Serangan yang lalu di Timur Tengah dan Asia telah menyebabkan kerusakan sistem kontrol industri, pencurian data untuk tujuan pengamatan, dan peretasan komputer yang digunakan untuk infrastruktur penting di negara-negara Asia. 

Apa yang Ditakutkan Para Ahli InfoSec
Beberapa tahun ini, Asia tidak hanya melihat serangan massal yang berkelanjutan dan oportunistis melalui malware, tetapi juga serangan yang ditargetkan dan difokuskan pada tujuan khusus seperti pencurian data atau pemerasan melalui ransomware. Tren ini dan lainnya adalah alasan mengapa hampir 60% responden yang menyebutkan target serangan sebagai keprihatinan terbesar mereka – khususnya, pelaku berbahaya di Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara.

Kekurangan Orang, Sumber Daya adalah Masalah Utama
Ketika ditanyakan, lebih dari 30% meyakini bahwa alasan utama kegagalan strategi keamanan siber di Asia adalah karena kurangnya tenaga ahli profesional. Kurangnya keterampilan ini, ditambah dengan kurangnya biaya, menciptakan kombinasi yang berbahaya yang menyebabkan organisasi keamanan Asia kurang percaya diri dengan kemampuan mereka dalam mempertahankan data penting organisasi mereka dari serangan siber. Di dalam laporan juga menyebutkan bahwa ahli keamanan di Asia cenderung berganti-ganti pekerjaan daripada mitra mereka di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi mereka mengekspresikan kekecewaan yang sama dalam upaya mendapatkan perhatian dari manajemen di atasnya mengenai prioritas keamanan. Lebih dari 50% ahli keamanan siber Asia mengatakan bahwa mereka secara aktif mencari pekerjaan baru atau terbuka terhadap peluang pekerjaan baru.

Kelemahan Keamanan
Dari semua kelemahan yang membuat para ahli keamanan informasi bekerja keras, hampir 40% percaya bahwa pengguna akhir yang melanggar kebijakan keamanan atau menjadi korban perangkap dan penipuan teknik sosial adalah apa yang membuat organisasi mereka rentan gangguan. Para ahli juga menyebutkan bahwa biaya juga dianggap masalah, dengan hampir 30% menyatakan bahwa pengeluaran yang berkaitan dengan kepatuhan menghabiskan sebagian besar pengeluaran untuk keamanan. Keprihatinan ini disebutkan bahkan dengan pelaksanaan Kerangka Kerja Privasi APEC, yang mana mewajibkan perusahaan di 27 negara yang membentuk wilayah Perusahaan Ekonomi Asia Pasifik mengikuti panduan privasi tertentu. 30% responden menganggap kerangka kerja menambah pekerjaan untuk mereka, tetapi 14% mengatakan kerangka kerja tidak meningkatkan privasi.

Unduh Laporan Penelitian Lengkap
Temuan dalam laporan ini dan respons dari para ahli dalam bidang tersebut merupakan panggilan untuk bertindak bagi pemerintah resmi dan para pemimpin bisnis. Asia membutuhkan perhatian lebih mengenai inisiatif, penelitian, dan pertahanan keamanan siber. Untuk wawasan dan informasi lainnya yang dapat ditindaklanjuti terkait tren dan temuan industri penting ini, unduh salinan Cybersecurity Risk in Asia, di sini: blackhat.com/latestintel/03122018-cyber-risk-in-asia.html  

Black Hat Asia 2018: 20-23 Maret, Singapura
Untuk merespons temuan laporan ini juga tren dan topik seluruh dunia, Black Hat akan mengundang beberapa ahli dalam komunitas keamanan informasi di Black Hat Asia 2018. Acara ini akan menyuguhkan jadwal yang padat dilengkapi dengan Pengarahan penelitian tepat waktu, Pelatihan bagi peserta, Aula Bisnis yang mengikutsertakan penyedia solusi terdepan dan program khusus tambahan untuk menyampaikan kebutuhan komunitas keamanan informasi yang lebih luas. Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 20-23 Maret di Marina Bay Sands, Singapura. Untuk informasi lebih lanjut dan menghemat S$200 untuk tiket masuk pengarahan sebelum 16 Maret, kunjungi: blackhat.com/asia-18/

Terhubung dengan Black Hat (#BlackHat)

Tanggal dan Acara Black Hat Mendatang

  • Black Hat AS 2018, Las Vegas, Nevada, 4-9 Agustus
  • Black Hat Eropa 2018, London, Inggris, 3-6 Desember

Tentang Black Hat
Selama 20 tahun, Black Hat telah menyediakan informasi penelitian, pengembangan, dan tren keamanan informasi terbaru. Acara dan pelatihan global bergengsi ini didorong oleh kebutuhan komunitas keamanan, berusaha untuk mempertemukan ahli terbaik di industri tersebut. Black Hat menginspirasi para profesional di semua jenjang karier, mendorong pertumbuhan dan kolaborasi di antara akademisi, peneliti kelas dunia, dan pemimpin di sektor publik dan swasta. Pengarahan dan Pelatihan Black Hat digelar tahunan di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Informasi selengkapnya tersedia di: blackhat.com. Black Hat diselenggarakan oleh UBM plc. UBM merupakan penyelenggara Acara B2B terbesar di dunia. Lebih dari 3.750 orang dari komunitas kami, yang berada di lebih dari 20 negara, melayani lebih dari 50 sektor berbeda. Pengetahuan dan semangat mendalam kami untuk sektor ini mendukung kami menciptakan pengalaman berharga yang memungkinkan pelanggan kami agar sukses. Kunjungi www.ubm.com untuk berita dan informasi terbaru tentang UBM. 

Kontak Media:
Kimberly Samra
Black Hat PR
BlackHatPR@ubm.com